Mauidhoh Hasanah oleh Habib Abdul Qadir bin Ahmad bin Husein Assegaf
MAJLIS DZIKIR MAULIDURRASUL SAW HAUL AKBAR PASURUAN 2026 DI MAJELIS MAULID WATTA’LIM ROUDHOTUSSALAF
Bertempat di Majelis Maulid Wa Ta’lim ROUDHOTUSSALAF , Sepanjang Jalan Utara Masjid Agung Bangil Pasuruan
AHAD PAGI, 18 JANUARI 2026 (29 RAJAB 1447 H)

Di siang hari yang penuh barokah ini, kita patut bersyukur atas hidayah dan taufik Allah SWT yang telah menggiring langkah kita menuju tempat yang mulia ini. Majelis ini bukan sekadar perkumpulan biasa, melainkan salah satu majelis Rasulullah SAW yang dinaungi oleh para malaikat. Kita meyakini sepenuhnya bahwa di tempat seperti inilah malaikat Allah turun, dan semoga hati kita semua diisi dengan cahaya (nur) baik saat datang maupun ketika pulang nanti.
Kekuatan Doa di Majelis Para Wali
Kehadiran para habaib, kiai, asatidz, dan seluruh jamaah menjadi sebab turunnya rahmat Allah. Rasulullah SAW dalam hadis Imam Bukhari pernah mengingatkan kita untuk berdoa pada waktu-waktu istijabah. Salah satu tandanya adalah saat ayam berkokok, karena saat itu ia sedang melihat malaikat.
Jika terhadap suara ayam saja kita diperintahkan untuk percaya akan turunnya malaikat dan segera berdoa, apalagi di dalam majelis zikir seperti ini. Jangan menunggu berdoa sendirian di rumah. Di sini, kita menggunakan “kekuatan” dan nama para kekasih Allah (Aulia) serta keyakinan akan hadirnya malaikat agar doa-doa kita mustajab. Sebagaimana kata para ulama, rahmat turun ketika banyak orang bersatu dalam zikir kepada Allah SWT.
Meneruskan Misi Rasulullah SAW
Kita beruntung memiliki teladan seperti Al Habib Umar bin Abdullah Assegaf dan Almarhum Kiai Asrori rahimahullah. Semangat mereka luar biasa dalam menghimpun umat untuk berzikir dan berselawat, bahkan dalam keadaan sakit sekalipun. Inilah sosok-sosok yang meneruskan misi suci Rasulullah SAW.
Sebaliknya, waspadalah terhadap pihak-pihak yang mengumpulkan massa hanya untuk memfitnah, mencaci, atau meragukan karamah para orang saleh. Perbuatan tersebut bukanlah misi Nabi, melainkan misi Abu Jahal dan setan. Tujuan utama kita hadir di majelis adalah agar tumbuh semangat ibadah dan keinginan kuat mencari ilmu agama di dalam hati kita.
Hakikat Rahmat: Meneladani Orang Saleh
Imam Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menjelaskan hadis “Inda zikri sholihin tanzilur rahmah” (saat nama orang saleh disebut, turunlah rahmat). Namun, beliau menekankan bahwa rahmat yang sebenarnya adalah dukhulul jannah atau masuk surga. Rahmat ini tidak turun secara instan dalam bentuk fisik, melainkan berupa gerakan hati (harakatul qalb) untuk meneladani (iqtida) perilaku orang-orang saleh tersebut.
Sebagai contoh, sahabat Imran bin Husein yang tetap bersabar meski sakit selama 20 tahun di atas tempat tidur. Beliau menolak disembuhkan karena merasa nyaman dengan karunia Allah berupa jabat tangan dari para malaikat setiap pagi dan sore. Membaca sejarah beliau seharusnya menumbuhkan semangat sabar dalam diri kita.
Penutup: Menjaga Cinta di Tengah Gempuran
Perlu diingat bahwa sekadar keinginan untuk meniru belum berarti rahmat telah turun sepenuhnya. Rahmat yang hakiki dirasakan saat kita mulai mempraktikkan amal mereka, seperti istiqamah dalam salat sunah dan wirid. Dengan meniru amalan tersebut, kita berharap mendapatkan husnul khatimah sebagai pintu menuju surga.
Meskipun kita merasa penuh dosa dan tidak memiliki amal yang membanggakan, setidaknya kita memiliki satu hal: Mahabbah (rasa cinta). Di tengah gempuran pihak-pihak yang ingin membuat kita benci kepada para habaib dan wali, kita harus berusaha sekuat tenaga agar rasa cinta ini tidak hilang. Semoga kita tetap istiqamah dalam mencintai para kekasih Allah dan kelak wafat dalam keadaan husnul khatimah.
Sumber: Channel YT ALWAVA
Link Full Video
Pertanyaan, kerjasama, atau laporan konten hubungi kami:
Email : ngaji.anina99@gmail.com
Youtube : @anina99dotcom
Tiktok : @anina99dotcom
Whatsapp : +62 895-6117-07936
Saluran WA : Ngaji Bareng Anina
subtitle:
Hadirin, Bapak, Ibu yang kami hormati.
Selanjutnya sejenak marilah kita dengar
bersama dengan saksama mawiidatul
hasanah yang akan disampaikan oleh Al
Habib Abdul Qadir bin Ahmad bin Husein
Asgaf.
Beliau adalah mudirul maahad Pondok
Pesantren Darul Ihya Ulumuddin Bendo
Mungal Bangil Pasuruan. Kepada beliau
dengan segala hormat disilakan.
Allahumma sholli ala sayyidina
Muhammad
wa ala ali sayyidina Muhammad.
Ahmad bin Zain Abu Bakar.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim.
Apin? Alhamdulillahi rabbil alamin
wasalatu wassalam ala asrofil mursalin
sayyidina
Muhammadin hadir hadir had
wa ala alihi
wasohbihi
ajmain.
Rabbisrohli sodri
wa yassirli amri qalbi
bihaqqi sayyidina
Muhammad.
Allahumma shalliim alai wa.
Di siang hari,
di siang hari yang penuh barokah ini
kita diberi hidayah
dan taufik oleh Allah Subhanahu wa
taala.
kita digiring
diarahkan
ke tempat yang mulia.
Satu majelis
daripada
majelisnya Rasulullah sallallahu alaihi
wasallam.
Satu tempat
yang di situ dinaungi oleh para
malaikat.
Naam. Naam.
Kita yakin
pasti
majelis seperti ini
menjadi
tempat turunnya para malaikat Allah.
Mudah-mudahan insyaallah kita yang hadir
tempat ini
datang ke tempat ini
dalam keadaan
diisi hati kita dengan nur. Allah
diisi dengan cahaya.
Amin.
Dan pulang kita juga nanti insyaallah
membawa nur
cahayah.
Amin. Amin ya rabbal
alamin. Dan semua para syiban, para
habaib, para kiai, para asatid,
hadirin, hadirat yang mudah-mudahan
insyaallah
amin
hadirnya antum ke sini semua menjadi
sebab turunnya rahmat Allah. Amin.
Amin yaabbalamin.
Hadirin hadirat yang dirahmati oleh
Allah.
Ada satu hadis dalam kitab Bukhari
yang menjelaskan
kita diperintahkan
berdoa.
Kita diperintahkan untuk berdoa
karena saat itu waktu itu adalah waktu
yang istijabah. Allah.
Waktu yang mustajab
kita diperintahkan oleh Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam
untuk meminta kepada Allah apapun yang
kita inginkan.
Dan waktu itu adalah ketika kita
mendengarkan
suara ayam berkokok.
Nabi sallallahu alaihi wasallam
bersabda, "Id samum minta karunia Allah,
doamu mustajab." Kenapa? Karena ketika
ayam itu berkokok, dia sedang melihat
malaikat Allah.
Maka saya berpikir
kita diperintahkan oleh Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam percaya
bahwasanya
ayam berkokok ini menandakan malaikat
turun.
Bahwasanya malaikat turun kita percaya.
Kita diperintahkan percaya dan
diperintahkan berdoa.
Apalagi hadirin hadirat
kita enggak ragu lagi
kita enggak bimbang ragu lagi
kita enggak bimbang kita enggak ragu
sama sekali di tempat seperti ini
insyaallah
ya Allah
para malaikat Allah turun.
Dan ketika para malaikat Allah turun,
doa kita mustajab. Amin ya rabbal amin.
Makanya punya hajat apa saja kesempatan.
Jangan nunggu di rumah.
Doa kita di rumah itu sendiri.
Kita sendiri. Kita minta kepada Allah
sendiri. Tapi ketika di majelis seperti
ini, kita pakai kekuatan para aulia
Allah.
Kita pakai nama para aulia Allah
dan kita yakin para malaikat hadir. Maka
berdoalah ketika di tempat seperti ini.
Indastimail himam. Kata para ulama
ketika banyaknya orang yang bersatu
sama-sama berzikir kepada Allah
Subhanahu
wa taala.
Alhamdulillah
kita punya para ulama,
para habaib, para kiai
yang selama hidup mereka dihabiskan
waktunya, umurnya, tenaganya untuk
menghimpun
masyarakat umat untuk diajak berzikir,
berselawat kepada Rasulullah sallallahu
alaihi wasallam.
Al Habib Umar bin Abdullah Assegaf.
Coba kita lihat
semangat beliau
dalam mengadakan pengajian majelis
mengumpulkan sebanyak-banyaknya orang
untuk apa? Diajak sama-sama berzikir,
berselawat kepada Rasulullah sallallahu
alaihi wasallam.
Almarhum
Kiai Asrari rahimahullah bagaimana
beliau?
Beliau posisi keadaan apapun keadaan
sakit pun diusahakan.
Bagaimana caranya mengumpulkan
sebanyaknya umat untuk sama-sama
berzikir, berselawat kepada Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam.
Inilah ulama-ulama, kiai-kiai,
habaib-habaib yang meneruskan misi
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
Kalau ada ulama, ada kiai atau ada
habaib yang kerjanya ngumpulkan orang
untuk memfitnah, untuk mencaci, untuk
menghina,
ini bukan meneruskan misinya Rasulullah.
Ini meneruskan misinya Abu Jahal.
Ini meneruskan misinya setan.
Coba kita lihat
ngumpulkan orang sebanyak-banyaknya
nanti diajak untuk mengkritik ulama,
untuk meragukan hati kita kepada
orang-orang saleh,
supaya kita ragu dengan karamah.
Nauzubillah
minzalik.
Maka majelis seperti ini
harus kita punya tujuan.
Kita harus punya tujuan.
Tujuan kita hadir majelis semacam ini
supaya tumbuh
semangat kita untuk beribadah kepada
Allah Subhanahu wa taala.
Semangat dari hati kita untuk mencari
ilmu agama.
Kalau seumpama seumpama
kita pulang dari majelis
atau kita setelah pulang dari majelis
manaun
keluar dari majelis
hati kita kurang semangat dalam ibadah
dalam mencari ilmu.
Al Imam Ghazali dalam kitab Ihya
Ulumiddin
beliau mengomentari
sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam
indzikri shihin tanzilur rahmah. Ketika
disebut nama orang saleh turun rahmat.
Ketika disebut nama orang saleh turun
rahmat.
Kita kalau hadir khul
pasti yang dikhali ini orang saleh,
pasti seorang wali, orang saleh, seorang
ulama.
Ketika disebut namanya,
disebut sejarahnya, manaqibnya,
tanzilur rahmat turun Rah rahmah.
Kata Imam Ghazali,
wa innamar rahmah dukhulul jannah.
Rahmat yang sebenarnya itu adalah masuk
surga.
Rahmat yang sebenarnya itu adalah ketika
seseorang berhasil masuk surga.
Wala tanzil
fakal wqat. Enggak langsung turun di
waktu itu rahmatnya.
Enggak langsung turun.
Karena rahmat itu sendiri adalah masuk
surga. Terus bagaimana kata Imam
Ghazali? Arrahmah tanzil rahmah yaitu
adalah harakatulis
alal iktid bihim.
Timbul gerakan dari hati.
timbul semangat yang baru. Lil iqtida
bihim untuk mengikuti mereka orang-orang
saleh.
Allahumma shallli ala sayyidina
Muhammad.
Kita kalau baca
kitab
kemudian di situ ada nama sahabat Imran
bin Husein.
Imran bin Husein. Kita diperintahkan
untuk baca doa.
Umpama kita baca
an Imran bin Husein. Kita langsung doa
Allah afuiah.
Loh kenapa kok di kita disuruh baca doa?
Dan kenapa beliau ini termasuk golongan
orang indza zikrihi tanzil rahmah?
Imran bin Husin ini termasuk sahabat
yang ketiga disebut namanya tur rahmat.
Kenapa?
Kata Imam Ghazali, ketika kita
disebutkan nama sahabat tadi,
kita langsung ingat
bagaimana
kesabaran beliau.
Beliau sakit selama 20 tahun di atas
tempat tidur. Enggak bisa berdiri,
enggak bisa duduk, tidur saja di atas
tempat tidur.
Selama 20 tahun
datang para sahabat menawarkan,
"Wahai Imran, bagaimana kalau saya
mintakan ke Rasulullah supaya kau
disembuhkan oleh Allah?" Apa?
Sahabat Imran bin Husein mengatakan,
"Tidak,
saya merasa nyaman dengan keadaanku
seperti ini. Kenapa?
Setiap pagi dan setiap sore para
malaikat datang kepadaku berjabat tangan
denganku."
Sehingga beliau lebih memilih sakit
daripada sembuh. Karena sakitnya
mendatangkan karunia Allah.
Kita baca kitab-kitab, sebut nama
beliau, harapannya timbul semangat dari
hati kita ingin sabar seperti beliau.
Ingin meniru beliau. Kalau sudah niru,
kata Imam Ghazali, kalau sudah ada
keinginan meniru
itu belum turun rahmat. Belum, masih
belum.
Anda keluar dari majelis ingin meniru
Kiai Asrari, ingin meniru Al Habib
Abdullah bin Saleh itu belum dapat
rahmat masih
sampai apa? Sampai akhirnya beramal
mempraktikkan apa yang dilakukan oleh
para aulia Allah, para saleh.
Bagaimana dulu hidupnya
Kiai Asrori Habib Abdullah bin Shoh? Oh,
hidupnya istiqamah. salat sunah enggak
ditinggalkan, wirid dibaca terus terus
kita tiru.
Maka ketika kita meniru melakukan apa
yang mereka lakukan, di situlah kita
akhirnya mendapatkan husnulah.
Husnul.
Maka ketika kita dapat husnul khatimah,
di situlah kita mendapatkan dukhulul
jannah, masuk surga, yaitu arrahmah yang
sebenarnya. Oleh karena itu,
mudah-mudahan insyaallah di majelis yang
mulia ini, mudah-mudahan kita
orang-orang yang kecil, kita ini
orang-orang yang penuh dosa, kita ini
orang-orang yang penuh hina, kita ini
kalau seumpama jadi
tempat
injakan kaki mereka para aulia, kita
pantes.
Pantes kita
karena kita enggak punya apa-apa. Kita
enggak punya apa-apa. Kita enggak punya
amal, enggak punya ibadah, dosa kita
banyak.
Bah satu, satu aja kita yang punya. Kita
punya mahabbah
dan kita enggak mau mahabbah ini hilang.
Kita akan berusaha jangan sampai cinta
ini hilang.
Di tengah gempuran-gempuran orang-orang
yang ingin membuat kita benci kepada
para habaib, benci kepada para wali,
kita berusaha sekuat tenaga tidak
menghilangkan rasa cinta kepada para
aulia, para salihin. Mudah-mudahan kita
tetap istikamah dalam mencintai para
aulia, para salihin, para habaib, para
kiai. Dan mudah-mudahan kita semua
mendapatkan husnul khatimah, husnul
khatimah, husnul khatimah.
Fah umnilimah.
Wasalamualaikum warahmatullah
wabarakatuh.