Mauidhoh Hasanah oleh KH Yasin Sulhan
MAJLIS DZIKIR MAULIDURRASUL SAW & HAUL DESA LENGKONG – CERME – GRESIK 2026
Bertempat di Halaman Masjid Fathur Rahman dan sepanjang jalan Desa Lengkong Cerme Gresik
Sabtu Malam Ahad, 31 Januari 2026 (13 Sya’ban 1447 H)

Kitab yang dipakai Jamaah Al Khidmah saat Majlis Dzikir wa Maulidur Rasul SAW:
1. Manakib Al Faidhur Rahmany: https://s.shopee.co.id/4LE4Q36Zqa
2. Maulidur Rasul SAW: https://s.shopee.co.id/2LT03Ra8LY
3. Iklil (Tahlil, Yasin, Sholawat Fi Hubbi): https://s.shopee.co.id/2VmXFleP6h
Beberapa link di atas adalah affiliate link. Saya dapat memperoleh komisi tanpa biaya tambahan untuk Anda jika terjadi pembelian melalui link tersebut. Terima kasih atas dukungannya.
Pembukaan dan Penghormatan
Alhamdulillahi wahdah, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, Sayyidina Muhammad ibn Abdillah, wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man tabi’ahum bi ihsanin ila yaumiddin.
KH Yasin Sulhan membuka mauidhohnya dengan penuh penghormatan kepada para kiai, asatidz, sesepuh, para habaib, keluarga Mbah Kiai Utsman, keluarga Hadratus Syaikh KH Ahmad Asrori Al Ishaqi, para pengurus Al Khidmah dan tarekat di berbagai tingkatan, serta seluruh jamaah yang hadir.
Beliau menegaskan bahwa kegiatan haul dan majelis dzikir bukan sekadar rutinitas seremonial, tetapi momentum perjuangan ruhani yang sangat besar nilainya.
Tafsir Surat Yasin: Perahu yang Mengangkut Keturunan
Beliau mengutip firman Allah dalam Surat Yasin:
“Wa ayatul lahum anna hamalna dzurriyyatahum fil fulkil masyhun.”
Ayat ini ditafsirkan oleh Sayyidina Syekh Ahmad bin Muhammad As-Shawi Al-Misri bahwa orang mukmin yang amalnya lebih banyak akan menjadi sebab terangkatnya derajat orang lain yang amalnya lebih rendah, bahkan dari kalangan keluarganya sendiri.
Artinya, ketika seseorang istiqamah dalam amal kebaikan—seperti mengikuti haul, dzikir, dan majelis Al Khidmah—maka kelak amal tersebut dapat menjadi “perahu keselamatan” yang mengangkat orang tuanya, anak-anaknya, dan keluarganya di akhirat.
Berjuang Bukan Hanya untuk Diri Sendiri
Mengikuti haul, ziarah, dan kegiatan ruhani bukan hanya mengirim doa kepada ahli kubur, tetapi juga mendaftarkan diri sebagai pejuang keluarga.
Beliau menegaskan:
- Bisa jadi orang tua kita dahulu belum sempat mengikuti majelis seperti ini.
- Bisa jadi belum terbuka hatinya untuk mengikuti kegiatan para ulama.
- Tetapi ketika anaknya istiqamah, amal anak tersebut dapat menjadi sebab terangkatnya derajat orang tua di hadapan Allah.
Inilah makna bahwa amal seorang mukmin dapat menjadi sebab kebaikan bagi dzurriyahnya.
Dzurriyah Nasab dan Dzurriyah Sebab
KH Yasin Sulhan menjelaskan bahwa ada dua jenis keterikatan di akhirat:
1. Dzurriyah Nasab
Keterikatan karena hubungan darah: orang tua, anak, cucu, dan keluarga.
2. Dzurriyah Sebab (Mahabbah)
Keterikatan karena cinta dan hubungan ruhani.
Seseorang mungkin tidak memiliki hubungan nasab dengan:
- Mbah Kiai Utsman
- Hadratus Syaikh KH Ahmad Asrori
- Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Namun karena mahabbah (cinta), mengikuti majelisnya, mengamalkan ajarannya, maka terjalinlah hubungan sebab yang kelak menjadi cantolan keselamatan.
Beliau menekankan bahwa mengikuti Jamaah Al Khidmah bukan perkara kecil dan bukan sekadar formalitas. Ada hubungan ruhani yang menjadi sebab pertolongan di akhirat.
Jalur Ilmu dan Jalur Amal
Dalam penjelasan Imam As-Shawi disebutkan:
Orang yang mencintai guru karena:
- Taklim (ilmu)
- Atau karena amal
Keduanya memiliki hak untuk dikumpulkan bersama gurunya kelak.
Ada yang menjadi murid karena mondok (jalur ilmu).
Ada yang mengikuti guru karena amaliyah (jalur amal).
Bahkan orang yang mengikuti guru melalui jalur amal memiliki kedudukan yang sangat kuat karena ia terikat dengan pengamalan nyata.
Di akhirat nanti:
- Murid akan dikumpulkan bersama gurunya.
- Guru akan dikumpulkan bersama guru yang lebih tinggi.
- Semua tarekat yang berbeda di dunia akan tetap tersambung dalam satu mata rantai di hadapan Allah, hanya berbeda derajat sesuai amalnya.
Hadis Tentang Permintaan Ahli Surga
Beliau mengutip sabda Nabi Muhammad ﷺ:
Ketika ahli surga telah masuk surga, ia dapat memohon kepada Allah agar orang tua, pasangan, dan anak-anaknya ikut bersamanya.
Awalnya Allah menjawab bahwa setiap orang masuk surga sesuai amalnya masing-masing. Namun ketika ia menjelaskan bahwa seluruh amalnya dahulu diniatkan untuk keluarganya—demi keselamatan bersama—maka Allah memerintahkan agar keluarganya dikumpulkan bersamanya.
Inilah kekuatan niat dan amal yang disertai mahabbah.
Pentingnya “Cantolan” di Akhirat
KH Yasin Sulhan menegaskan bahwa manusia membutuhkan cantolan (gandengan) di akhirat.
Jika belum mampu langsung “menggandol” kepada Rasulullah ﷺ, maka bisa melalui para wali dan guru-guru yang dicintai.
Jika belum kuat amalnya untuk langsung tersambung kepada guru besar, maka bisa tersambung melalui murid-muridnya yang saleh.
Selama ada mahabbah dan istiqamah dalam amal, maka ada harapan tersambung dalam rantai keselamatan.
Beliau menggambarkan bahwa di akhirat nanti bisa saja seseorang selamat karena tersambung melalui gurunya, dan gurunya tersambung kepada guru yang lebih tinggi, hingga akhirnya semua dikumpulkan dalam rahmat Allah.
Doa Penutup
Beliau menutup dengan doa:
- Memohon panjang umur dan kesehatan.
- Memohon keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban.
- Memohon dipertemukan dengan Ramadan.
- Memohon mendapatkan Lailatul Qadar.
- Memohon husnul khatimah.
- Memohon dapat berkumpul kembali bersama keluarga di Surga Allah SWT.
Sumber: Channel YT ALWAVA
Link Full Video
Pertanyaan, kerjasama, atau laporan konten hubungi kami:
Email : ngaji.anina99@gmail.com
Youtube : @anina99dotcom
Tiktok : @anina99dotcom
Whatsapp : +62 895-6117-07936
Saluran WA : Ngaji Bareng Anina