(4). KAJIAN KITAB AL MUNTAKHOBAT (2025) : FII MAA HUWA AL MANAQIB

oleh UST. DR. ABDUR ROSYID JUHRO M, Fil. I. 

KAJIAN RAMADHAN 2025

Bertempat di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Kedinding Surabaya

RABU PAGI, 5 MARET 2025 (5 RAMADHAN 1446 H)

Tanda Kebahagiaan dan Ketetapan Azali

Dalam kitab Lathif Al-Mardhiyah, Syekh Syarofuddin menjelaskan bahwa kebahagiaan (sa’adah) seseorang telah ditetapkan oleh Allah sejak zaman azali. Ciri utama orang yang ditakdirkan bahagia adalah kemudahan hatinya untuk menerima dan mencintai kisah-kisah para kekasih Allah (Wali, Masyayikh, dan Habaib).

  • Respons Hati: Saat mendengar cerita tentang orang besar, hatinya menyambut dengan gembira dan rasa suka, meskipun cerita tersebut di luar nalar (karamah).
  • Kesesuaian Ruhani (Al-Munasabah): Hal ini terjadi karena adanya kesesuaian hakiki antara ruh pendengar dengan ruh wali yang diceritakan.
  • Kelompok Sebaliknya: Orang yang tidak ditakdirkan bahagia cenderung mengingkari (inkar) atau meragukan karamah dengan tolok ukur akal semata, padahal karamah sejatinya memang bersifat irasional atau di luar kebiasaan (khariqul ‘adah).

Rahasia Ruh di Alam Azali (Al-Arwah Junudun Mujannadah)

Manusia diibaratkan seperti tambang emas dan perak; nilainya tergantung pada sumber asalnya. Mengutip Ihya Ulumuddin, Ust. Abdur Rosyid menjelaskan bahwa sebelum jasad diciptakan, ruh-ruh manusia telah dikumpulkan di alam Azali.

  • Pertemuan Ruhani: Ruh yang saling mengenal dan berinteraksi di alam Azali akan cenderung saling mencintai dan bersatu di dunia.
  • Ketidakcocokan Ruhani: Ruh yang tidak saling mengenal di alam sana akan mengalami perselisihan atau ketidakcocokan di dunia, meskipun hidup di zaman yang sama. Inilah alasan mengapa tokoh seperti Abu Jahal tidak percaya kepada Rasulullah SAW meski melihatnya langsung, sementara kita yang tidak sezaman bisa sangat mencintai beliau.

Karomah: Martabak Hangat dari Alam Gaib

Sebagai ilustrasi tentang hal yang tidak masuk akal, diceritakan kisah kedekatan Hadratussyekh (Kiai Usman/Kiai Asrori Al-Ishaqi) dengan Kiai Hamid Pasuruan.

Suatu malam pukul 12, saat Kiai Hamid keluar menuju toilet, Hadratussyekh datang berkunjung. Secara ajaib, Kiai Hamid masuk ke kamar dan keluar membawa bungkusan martabak Arab yang masih panas, lengkap dengan aroma bawang khas Saudi. Secara logika, tidak mungkin ada martabak segar di tengah malam di masa itu tanpa persiapan matang. Namun, bagi orang yang percaya, ini adalah bukti nyata kemuliaan wali Allah.


Cinta Allah yang Menular ke Penduduk Bumi

Mengutip hadis riwayat Abu Hurairah, dijelaskan mekanisme bagaimana seorang Wali dicintai masyarakat:

  1. Cinta Allah: Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Malaikat Jibril untuk mencintainya.
  2. Perintah Langit: Jibril kemudian mengumumkan kepada seluruh penduduk langit agar mencintai orang tersebut.
  3. Penerimaan Bumi: Setelah dicintai penduduk langit, Allah meletakkan rasa penerimaan (qabul) di hati penduduk bumi, sehingga orang tersebut dicintai dan diikuti oleh banyak orang tanpa rekayasa.

Pentingnya Tasdiq (Membenarkan) Kewalian

Imam Ibnu Atha’illah Al-Sakandari dalam Kitab Al-Hikam menegaskan bahwa jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, Dia akan menjadikannya orang yang percaya kepada para Wali meskipun akalnya tidak sampai menjangkau hakikat mereka.

  • Pahala Kepercayaan: Barang siapa mendengar tentang keutamaan seorang Wali lalu ia percaya dengan harapan mendapat barakah, maka Allah akan memberinya bagian dari keutamaan tersebut meskipun ia bukan seorang Wali.
  • Bahaya Mengingkari: Ulama Salaf memperingatkan bahwa sikap mendustakan (mukadzib) para Wali dikhawatirkan dapat menyebabkan Suul Khatimah (akhir yang buruk). Sebab, mengingkari Wali sama saja dengan mengingkari esensi iman dan takwa yang ada pada diri mereka.

Kesimpulan: Kepercayaan kita kepada para Wali adalah anugerah mahal yang sudah “disetting” oleh Allah. Jika kita tidak bisa menjadi Wali yang mendapatkan “hujan deras” (karamah langsung), setidaknya jangan sampai kita tidak terkena “gerimisnya” (keberkahan dari mempercayai mereka).

Sumber: Channel YT ALWAVA

Link Full Video Kajian

Pertanyaan, kerjasama, atau laporan konten hubungi kami:

Email : ngaji.anina99@gmail.com

Youtube : @anina99dotcom

Tiktok : @anina99dotcom

Whatsapp : +62 895-6117-07936

Saluran WA : Ngaji Bareng Anina

@anina99dotcom

(4). KAJIAN KITAB AL MUNTAKHOBAT (2025) : FII MAA HUWA AL MANAQIB oleh UST. DR. ABDUR ROSYID JUHRO M, Fil. I. KAJIAN RAMADHAN 2025 Bertempat di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Kedinding Surabaya RABU PAGI, 5 MARET 2025 (5 RAMADHAN 1446 H) selengkapnya di anina99.com/s/4almuntakhobat25 🌟 TANDA ANDA ORANG YANG BAHAGIA (SA’ADAH) 🌟 Apakah Anda merasa tenang dan gembira saat mendengar kisah para Wali Allah? Menurut Syekh Sarofuddin dalam Kitab Latif Al-Mardhiyah, itu adalah tanda besar bahwa Anda telah ditakdirkan meraih kebahagiaan sejak zaman Azali. 1. Rahasia Kecocokan Ruh (Al-Munasabah) Kebahagiaan seseorang ditandai dengan kemudahan hatinya menerima kisah kemuliaan para Wali, Masyayikh, dan Habaib. Hal ini terjadi karena adanya keserasian ruhani antara pendengar dengan sosok yang diceritakan. Ruh yang sudah saling mengenal di alam Azali akan saling mencintai saat bertemu di dunia. 2. Karomah di Luar Logika Karamah seringkali bersifat irasional atau tidak masuk akal bagi logika manusia. Ust. Abdur Rosyid menceritakan kisah Kiai Hamid Pasuruan yang secara ajaib menyuguhkan martabak Arab yang masih panas di tengah malam saat menyambut Hadratus Syekh KH Ahmad Asrori, meski secara lahiriah mustahil tersedia saat itu. 3. Pentingnya Tasdiq (Mempercayai) Barang siapa yang mendengar keutamaan (Fadilah) para kekasih Allah lalu memercayainya dengan iman, maka ia akan mendapatkan pahala keutamaan tersebut meskipun ia bukan seorang Wali. Sebaliknya, sikap mengingkari para Wali sangat dikhawatirkan dapat menyebabkan Suul Khatimah. 4. Menjadi “Wali” Lewat Iman Imam Abul Qasim Junaid Al-Baghdadi menegaskan bahwa membenarkan ilmu kewalian adalah bagian dari kewalian itu sendiri. Jika kita belum bisa menjadi Wali yang mendapat “hujan deras” (karomah besar), minimal jangan sampai kita tidak terkena “gerimisnya” (keberkahan dari rasa percaya). ______________ Kesimpulan: Cinta dan percaya kepada para Wali adalah anugerah mahal yang tidak bisa direkayasa. Itu adalah “settingan” langsung dari Allah SWT alkhidmah manakib karomahwali aswaja santriindonesia sumber: YT @alwavamedia

♬ original sound – Anina | Katalog Kitab Islami – Anina | Katalog Kitab Islami

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *