oleh UST. DR. ABDUR ROSYID JUHRO, M. Fil. I.
KAJIAN RAMADHAN 2025
Bertempat di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Kedinding Surabaya
SELASA PAGI, 11 MARET 2025 (11 RAMADHAN 1446 H)

I. Adab dan Syarat Utama Menuntut Ilmu
Sebelum memasuki inti kitab, terdapat dua hal mendasar yang harus diperhatikan oleh setiap penuntut ilmu agar mendapatkan keberkahan (futuhat):
- Menjaga Wudhu: Para pengarang kitab (musanif) senantiasa berada dalam keadaan suci saat menyusun karya mereka. Sebagai bentuk penghormatan, murid pun hendaknya memiliki wudhu saat mengaji.
- Tawasul kepada Pengarang: Penting untuk mengirimkan Al-Fatihah kepada pengarang kitab sebagai bentuk izin spiritual dan penghormatan agar ilmu yang dipelajari menjadi ridho.
II. Potret Keikhlasan Luar Biasa Para Ulama
Kitab-kitab besar yang kita pelajari hari ini lahir dari keikhlasan yang telah diuji secara spiritual oleh para pengarangnya:
- Mushannif Kitab Jurmiah: Setelah merampungkan tulisannya, beliau menenggelamkan kitab tersebut ke laut sambil berdoa. Jika kitab itu tetap kering, maka itu tanda keikhlasannya. Terbukti, kitab tersebut tetap kering dan kini dipelajari di seluruh dunia.
- Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi: Beliau meletakkan naskah Futuhatul Makkiyah di atas Ka’bah selama satu tahun. Meski Makkah diterjang hujan badai, naskah tersebut tetap utuh tanpa kerusakan sedikit pun setelah setahun.
- Syekh Abdul Wahab Asy-Sya’rani: Saat menyusun kitab Mizanul Kubro, beliau hanya memakan tanah yang belum ada pemiliknya demi menghindari makanan syubhat yang dapat mengotori hatinya.
III. Tiga Kedudukan Tinggi: Meninggalkan Gibah hingga Husnudzon
Mengutip pendapat Habib Abdullah bin Abu Bakar Al-Idrus, terdapat tiga tingkatan kemuliaan bagi seorang mukmin:
- Meninggalkan Gibah: Merupakan sebuah “kerajaan” atau kedudukan yang tinggi.
- Meninggalkan Adu Domba (Namimah): Merupakan sebuah “kekuasaan”.
- Senantiasa Husnudzon: Merupakan ciri “kewalian”.
Seseorang tidak akan bisa membenarkan atau mengenali kewalian orang lain kecuali jika dirinya sendiri memiliki sifat husnudzon. Di akhir zaman, tantangan terberat adalah banyaknya orang yang mudah berprasangka buruk (suudzon) hanya berdasarkan penglihatan sekilas atau berita viral yang belum tentu benar.
IV. Teladan Akhlak: Membalas Keburukan dengan Kebaikan
Ustaz Rosyid menceritakan pengalaman di pondok pesantren saat menghadapi seseorang yang berpura-pura masuk Islam namun ternyata seorang penipu (DPO). Meski demikian, guru beliau (Hadratus Syekh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi) tetap menangis haru dan mendoakan mereka dengan tulus.
Prinsip ini sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW: “Wal musiu bil ihsan”—membalas kebaikan terhadap orang yang berbuat jahat.
“Jika kejelekan dibalas dengan kejelekan, maka kapan kejelekan itu akan berakhir? Maka balaslah dengan kebaikan.” — Habib Umar bin Hafidz.
V. Mencari Keberkahan (Tabarruk)
Sebagaimana umat Islam disunnahkan mengambil berkah dari air hujan karena sifatnya yang “dekat dengan rahmat Allah,” maka mengambil berkah dari orang-orang saleh jauh lebih utama.
Menatap wajah orang alim mengandung barokah karena mereka adalah cermin makrifatullah. Bahkan, para sahabat Nabi selalu merasakan kehadiran (tsubutul wujud) Rasulullah SAW di tengah-tengah mereka. Rasa cinta ini pula yang membuat Bilal bin Rabah pingsan saat mengumandangkan azan setelah setahun meninggalkan Madinah karena tidak kuat menahan rindu pada Rasulullah.
VI. Penutup: Waspada Adu Domba
Umat diingatkan untuk waspada terhadap upaya-upaya sistematis yang ingin memutus hubungan batin antara umat dengan keturunan Rasulullah (Habaib) dan para Wali. Menjaga kecintaan kepada mereka adalah benteng kekuatan umat Islam.
Sumber: Channel YT ALWAVA
Link Full Video Kajian
Pertanyaan, kerjasama, atau laporan konten hubungi kami:
Email : ngaji.anina99@gmail.com
Youtube : @anina99dotcom
Tiktok : @anina99dotcom
Whatsapp : +62 895-6117-07936
Saluran WA : Ngaji Bareng Anina