(8). KAJIAN KITAB AL MUNTAKHOBAT (2025) : FII MAA HUWA AL MANAQIB

oleh UST. DR. ABDUR ROSYID JUHRO M, Fil. I. 

KAJIAN RAMADHAN 2025

Bertempat di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Kedinding Surabaya

AHAD PAGI, 9 MARET 2025 (9 RAMADHAN 1446 H)

Klasifikasi Jamaah dalam Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Al-Utsmaniyah

Dalam tradisi thariqah pada umumnya, struktur entitas biasanya hanya terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Mursyid (guru pembimbing) dan Murid. Namun, Hadratus Syekh (KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi) melakukan ijtihad yang istimewa dengan membagi klasifikasi pengikutnya menjadi tiga kelompok besar. Pembagian ini menunjukkan bahwa beliau adalah Syekh Waktihi, sosok yang paling mengerti kondisi zaman dan kebutuhan spiritual umat saat itu.

Tiga kelompok tersebut adalah:

  1. Murid: Orang-orang yang telah berbaiat secara khusus kepada Mursyid dalam Thariqah Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah Al-Utsmaniyah.
  2. Muhibbin: Para pecinta yang memiliki iktikad kuat, senang berkumpul dengan para guru, mengikuti kegiatan Al-Khidmah, serta berusaha meniru amaliah dan akhlak para guru.
  3. Jamaah Al-Khidmah: Masyarakat umum yang mengikuti kegiatan-kegiatan dzikir dan manakib yang telah ditetapkan oleh guru pembimbing.

Bahkan, klasifikasi ini berkembang mencakup komunitas anak muda seperti Ukhsafi Copler Community. Hal ini membuktikan visi Hadratussyekh dalam membangun “Bangunan Tarbiyah” (pendidikan rohani) yang kokoh. Sebagaimana dawuh Habib Umar bin Hamid Al-Jilani, bangunan ini tidak akan hancur hingga kiamat karena meski jumlah murid mungkin terbatas, jumlah Muhibbin dan Jamaah Al-Khidmah akan terus bertambah.


Keistimewaan Mahabbah kepada Orang Saleh

Ust. Abdur Rosyid menekankan bahwa tidak bertemu atau tidak sezaman dengan Mursyid bukanlah sebuah penghalang spiritual. Beliau mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang merindukan Ahbabi (para kekasihnya), yaitu orang-orang yang tidak sezaman dengan Nabi namun beriman dan yakin kepadanya.

Dalam Kitab Al-Muntakhobat Jilid 3, dijelaskan betapa dahsyatnya barokah mencintai orang saleh melalui sebuah narasi di akhirat:

  • Ada seseorang yang divonis masuk neraka, namun Allah memerintahkan Malaikat Jibril untuk mengecek apakah orang tersebut pernah duduk di majelis orang alim, mencintai orang alim, atau sekadar makan bersama orang alim.
  • Bahkan jika semua itu tidak ada, Allah memerintahkan untuk mengecek apakah namanya atau nama leluhurnya sama dengan nama seorang ulama.
  • Jika tetap tidak ditemukan, jalur terakhir adalah hubungan pertemanan; jika ia memiliki teman yang mencintai orang saleh, maka ia bisa mendapatkan syafaat karena modal mahabbah tersebut.

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa syarat berkumpul dengan orang saleh di akhirat tidaklah harus mampu meniru persis seluruh amalnya. Kedekatan hati (taqorrub baina qulubihim) sudah cukup menjadi modal keselamatan.


Mengenal Sosok Wali: Antara Alim dan Arif

Terdapat perbedaan mendasar antara orang Alim dan Arif. Orang Alim seringkali “berada di bawah apa yang ia ucapkan” (pintar mengolah kata), sedangkan orang Arif “berada di atas apa yang ia ucapkan” (ilmunya jauh lebih dalam dari ceramahnya).

Keberadaan Wali (kekasih Allah) seringkali tersembunyi dari pandangan lahiriah manusia. Ust. Abdur Rosyid menceritakan beberapa contoh nyata jamaah Al-Khidmah yang tampak sederhana, bahkan dianggap remeh oleh masyarakat—seperti orang yang buta huruf, tidak mengerti nilai uang, atau fisiknya tampak berpenyakit—namun memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Ini sesuai dengan kaidah bahwa “tidak ada yang mengetahui wali kecuali sesama wali” (la yariful wali ilal wali).


Filosofi Amaliah Mutih dan Empat Tiang Thariqah

Salah satu ajaran yang ditekankan adalah mengikuti hawa nafsu agar sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW. Dalam thariqah, terdapat empat tiang utama bangunan spiritual (Qawaidut Thariq):

  1. Qolilut Tha’am: Sedikit makan.
  2. Qolilul Kalam: Sedikit bicara.
  3. Qolilun Niyam: Sedikit tidur.
  4. Iktizalul Anam: Menjauh dari keramaian (menyendiri untuk beribadah).

Mutih (pantang makan makanan bernyawa dan penyedap rasa) adalah sarana untuk mencapai kondisi tersebut. Tujuannya bukan sekadar menjadi vegetarian, melainkan agar makanan yang dikonsumsi tidak terlalu “enak” sehingga seseorang tidak makan secara berlebihan (kekenyangan). Dengan lapar, seseorang akan lebih mudah mengontrol lisan, mengurangi tidur, dan lebih khusyuk dalam beribadah.


Teladan Uwais Al-Qarani

Sebagai penutup, dikisahkan tentang Uwais Al-Qarani, seorang tabiin yang namanya masyhur di langit namun tidak dikenal di bumi (majhulun fil ardi, ma’rufun fis sama’). Beliau mencapai derajat spiritual yang sangat tinggi, bahkan mampu memberi syafaat bagi ribuan orang, bukan karena kekayaan atau jabatan, melainkan karena baktinya yang luar biasa kepada ibundanya dan ketaatannya pada amanah.

Kisah Uwais mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak dilihat dari rupa lahiriah atau pengakuan manusia, melainkan dari ketulusan hati dan amal perbuatannya.

Sumber: Channel YT ALWAVA

Link Full Video Kajian

Pertanyaan, kerjasama, atau laporan konten hubungi kami:

Email : ngaji.anina99@gmail.com

Youtube : @anina99dotcom

Tiktok : @anina99dotcom

Whatsapp : +62 895-6117-07936

Saluran WA : Ngaji Bareng Anina

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *