(9). KAJIAN KITAB AL MUNTAKHOBAT (2025) : FII MAA HUWA AL MANAQIB

oleh UST. DR. ABDUR ROSYID JUHRO, M. Fil. I. 

KAJIAN RAMADHAN 2025

Bertempat di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Kedinding Surabaya

SENIN PAGI, 10 MARET 2025 (10 RAMADHAN 1446 H)

Kontribusi Ulama Nusantara untuk Dunia

Dalam sejarah perkembangan ilmu keislaman, tidak sedikit ulama asal Indonesia yang karya-karyanya diakui secara Internasional. Beberapa di antaranya bahkan menjadi rujukan wajib di pusat keilmuan dunia seperti Universitas Al-Azhar, Mesir.

  • Syekh Nawawi Al-Bantani: Ulama paling produktif dengan karya mencapai 55 hingga 99 judul kitab yang banyak dikaji di pesantren.
  • Syekh Ihsan Jampes: Penulis kitab Sirajut Thalibin (dua jilid) yang menjadi referensi di Al-Azhar.
  • Syekh Arsyad Al-Banjari: Penulis kitab fikih Sabilul Muhtadin.
  • Syekh Mahfuzh At-Tarmasi: Ulama ahli hadits asal Pacitan yang karyanya mendunia.

Namun, jika dilihat dari jumlah jilid dalam satu judul karya, Hadratus Syekh Romo KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi memegang catatan luar biasa. Kitab beliau, Al-Muntakhobat, terdiri dari lima jilid tebal. Menariknya, beliau sengaja berhenti di jilid kelima karena rasa tawadunya (sungkan) kepada Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang menulis tafsir sebanyak enam jilid. Beliau tidak ingin jumlah jilid karyanya menyamai atau melebihi sang sultanul aulia sebagai bentuk adab dan akhlak dalam mengarang.

Hakikat Wali: Tersembunyi di Balik Kemanusiaan

Mengutip Syekh Abu Abbas Al-Mursi, mengenal seorang wali (makrifatul wali) jauh lebih sulit daripada mengenal Allah (makrifatullah). Hal ini dikarenakan Allah memperkenalkan diri melalui kesempurnaan (Kamal), keindahan (Jamal), dan keagungan-Nya (Jalal) yang jelas terpampang di alam semesta.

Sebaliknya, seorang wali adalah manusia biasa yang terlihat sama dengan kita: mereka makan, minum, dan berjalan di pasar sebagaimana manusia lainnya. Kesamaan lahiriah inilah yang seringkali menjadi “hijab” atau penghalang bagi orang awam untuk mengenali kesucian mereka. Sebagaimana kaum musyrik zaman dahulu yang menolak kenabian Rasulullah SAW hanya karena beliau makan dan pergi ke pasar seperti manusia biasa.

Regenerasi Para Wali

Berdasarkan tafsir isyari dari Syekh Abu Abbas Al-Mursi terhadap surat Al-Baqarah ayat 106, Allah tidak akan mematikan seorang wali kecuali Dia akan menggantinya dengan wali lain yang setara atau bahkan lebih baik. Pandangan ini sejalan dengan Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi bahwa jumlah wali (khususnya wali abdal yang berjumlah tujuh) tidak akan pernah berkurang demi menjaga keseimbangan dunia.

Kisah unik mengenai pengangkatan wali seringkali di luar logika manusia:

  1. Maling Jadi Wali: Ada kisah seorang pencuri yang bersembunyi di rumah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, lalu seketika diangkat menjadi Wali Abdal ketujuh menggantikan wali yang baru saja wafat malam itu.
  2. Nasrani Masuk Islam: Dalam manaqib diceritakan seorang Nasrani dari Konstantinopel yang dibawa Nabi Khidir AS, lalu bersyahadat dan langsung diangkat menjadi Wali Abdal.

Pesan moralnya adalah kita tidak boleh merasa lebih baik dari siapa pun, termasuk terhadap non-muslim, karena kita tidak pernah tahu bagaimana akhir hidup seseorang (husnul khatimah).

Husnuzan: Kunci Mendapat Barokah

Salah satu rintangan terbesar santri atau penuntut ilmu adalah penyakit hati yang merasa lebih mulia dari makhluk lain. Syekh diceritakan pernah memberi ujian kepada seorang putra Habib yang alim: “Carilah makhluk Allah yang paling hina di muka bumi ini”.

Setelah berkeliling, pemuda itu hampir membawa seekor anjing tua yang penyakitan. Namun, ia tersadar bahwa anjing tersebut tidak akan dihisab di akhirat dan tidak akan masuk neraka, sedangkan dirinya sendiri belum tentu selamat dari hisab Allah. Kesimpulan bahwa “dirinya lebih hina dari anjing” itulah yang justru membuatnya lulus ujian kewalian.

Manfaat Bergaul dengan Wali

Barangsiapa bergaul dengan seorang wali dengan landasan keyakinan (itikad) dan pembenaran (tasdik), maka ia akan mendapatkan manfaat sesuai dengan kadar niat dan cita-citanya (himmah).

  • Jika Allah ingin memperkenalkan kita pada wali-Nya, Dia akan menutup pandangan kita dari sifat basyariah (kemanusiaan) sang wali dan memperlihatkan sifat keistimewaannya (khususiyah).
  • Langkah awal menuju makrifatullah adalah memiliki rasa percaya dan membenarkan rahasia-rahasia kewalian.

Zuhud Tidak Berarti Miskin

Banyak salah paham bahwa wali harus hidup melarat. Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili, pendiri Thariqah Syadziliyah, adalah seorang wali kutub yang sangat kaya raya; kendaraannya bahkan dilapisi emas 24 karat.

Zuhud bukanlah tentang tidak memiliki harta, melainkan tentang hati yang tidak terikat oleh harta. Harta berada di tangan, bukan di dalam hati. Hadratus Syekh KH. Ahmad Asrori sendiri dikenal memiliki fasilitas yang baik, namun beliau dengan mudah menjual aset pribadinya (seperti mobil Pajero) demi membiayai pembangunan pesantren ketika dana yayasan habis.

Beliau mencontohkan bahwa kekayaan bagi seorang ulama adalah sarana dakwah dan syiar, sementara secara pribadi, hati mereka tetap terpaut sepenuhnya kepada Allah SWT.

Sumber: Channel YT ALWAVA

Link Full Video Kajian

Pertanyaan, kerjasama, atau laporan konten hubungi kami:

Email : ngaji.anina99@gmail.com

Youtube : @anina99dotcom

Tiktok : @anina99dotcom

Whatsapp : +62 895-6117-07936

Saluran WA : Ngaji Bareng Anina

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *