oleh Sayyidina Al Habib Abdurrahman bin Aqil
Kajian Kitab Al Muntakhobat – Pengajian Ahad Kedua Bulan Rajab 1447 H
Bertempat di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Kedinding Surabaya
AHAD PAGI, 28 DESEMBER 2025 (8 RAJAB 1447 H)

Alhamdulillah, kita kembali dipertemukan untuk mengkaji mutiara hikmah yang disusun oleh Syaikhuna wa Murabbi Arwahina As Syekh Ahmad Asrori Al-Ishaqi dalam kitab beliau, Al-Muntakhabat. Fokus pembahasan kali ini adalah mengenai Min Khasaisil Insan, yaitu tentang keistimewaan-keistimewaan dan keutamaan yang dianugerahkan Allah kepada manusia, serta hakikat di balik keistimewaan tersebut.
Sebagai Mursyid Thariqah Al-Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Al-Utsmaniyah, Syekh Ahmad Asrori memaparkan keistimewaan manusia melalui kacamata tasawuf dan ayat-ayat Al-Qur’an. Beliau menegaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kekhususan kepada manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lain, bahkan para malaikat sekalipun.
Penyatuan Roh dan Jasad: Wadah Kesempurnaan Amal
Keistimewaan utama manusia terletak pada penciptaannya: Allah menjadikan roh yang lembut, halus, dan bercahaya, lalu diletakkan ke dalam wadah yang disebut jasad. Penyatuan ini bukan tanpa alasan; jasad tanpa roh hanyalah benda mati, sementara roh tanpa jasad tidak dapat melakukan tindakan fisik. Keduanya harus menyatu agar manusia mampu mencapai puncak interaksi dan kesempurnaan dalam beramal (gayatul kamal).
Dalam Surah Al-Haj ayat 65, Allah menegaskan bahwa segala sesuatu di alam semesta—pepohonan, hewan, tumbuhan, hingga logam—telah ditundukkan demi kemaslahatan manusia. Bahkan kapal yang berlayar dan tertahannya langit agar tidak menimpa bumi, semuanya berjalan atas izin dan aturan Allah sebagai bentuk kasih sayang kepada manusia.
Syukur dan Zikir sebagai Tanda Pengabdian
Segala fasilitas alam semesta yang diberikan Allah bertujuan agar manusia mampu melakukan amal secara sempurna. Namun, kesempurnaan amal ini tidak mungkin tercapai kecuali jika hamba tersebut bersyukur kepada Penciptanya.
Rasa syukur yang sejati diwujudkan melalui zikir. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadis Qudsi: “Jika engkau mengingat-Ku (berzikir), maka itulah tanda syukurmu. Namun jika engkau lalai, itulah tanda kekufuranmu”.
Keteladanan dalam bersyukur ditunjukkan langsung oleh Rasulullah SAW. Meski dosa beliau yang lalu dan akan datang telah diampuni, beliau tetap beribadah hingga kaki beliau bengkak. Saat ditanya oleh Sayyidah Aisyah, beliau menjawab: “Tidakkah boleh aku menjadi hamba yang bersyukur?”. Jadi, hamba yang bersyukur adalah mereka yang membalas curahan rahmat Allah dengan ketaatan, salat, dan zikir.
Menjaga Nikmat Zahir dan Batin
Allah menjamin tidak akan mencabut nikmat dari suatu kaum kecuali kaum tersebut sendiri yang mengubah keadaan mereka dengan meninggalkan ketaatan dan zikir. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Bahrul Madid oleh Syekh Ibnu Ajibah, Allah terkadang “menahan” karunia-Nya (fuyudur rahmaniyah) sampai seorang hamba benar-benar siap menerimanya.
Kesiapan ini diukur dari keikhlasan dan istikamah dalam ibadah. Ketika Allah melihat seorang hamba siap, barulah anugerah khusus atau karamah diberikan, sebagaimana yang kita saksikan pada sosok guru kita, Syekh Ahmad Asrori Al-Ishaqi.
Mengelola Lintasan Hati
Selain nikmat zahir seperti kesehatan dan rezeki, terdapat nikmat batin berupa ketenangan. Imam Ghazali mengumpamakan hati manusia seperti sebuah benteng yang memiliki pintu-pintu. Pintu-pintu ini diperebutkan oleh tiga pasukan:
- Pasukan Allah (Malaikat): Membawa bisikan langit (khatirul malaki).
- Pasukan Hawa Nafsu: Membawa bisikan nafsu (khatirun nafsi).
- Pasukan Setan: Membawa bisikan penyesatan (khatirun syaitani).
Kewajiban kita adalah mempertahankan benteng hati agar tetap terbuka bagi hidayah dan tidak tertutup oleh bintik hitam akibat kemaksiatan. Hati yang tertutup akan sulit menerima kebenaran dan cenderung menggugat ketetapan (qada dan qadar) Allah.
Penutup: Istikamah dalam Majelis Zikir
Majelis zikir yang dirintis oleh Syekh Ahmad Asrori Al-Ishaqi bertujuan untuk memperkuat nikmat iman dan keyakinan agar hati tidak goyah oleh arus zaman. Kita harus waspada agar perjuangan bertahun-tahun dalam mendekatkan diri kepada Allah tidak tergelincir hanya karena bisikan setan atau hawa nafsu yang sesaat. Semoga Allah senantiasa membimbing kita melalui lintasan-lintasan ketuhanan (khatirun rabbani), sehingga iman kita tetap kokoh, hati tetap tenang, dan kita terhindar dari segala sesuatu yang diharamkan-Nya.
Sumber: Channel YT ALWAVA
Link Full Video Kajian
Pertanyaan, kerjasama, atau laporan konten hubungi kami:
Email : ngaji.anina99@gmail.com
Youtube : @anina99dotcom
Tiktok : @anina99dotcom
Whatsapp : +62 895-6117-07936
Saluran WA : Ngaji Bareng Anina